Tampilkan postingan dengan label Puisi Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan

Suara Dari Langit

|| || , || Leave a komentar

SUARA DARI LANGIT
Puisi Egi Hendrawan

Aku bukan khalil
Ini bukan puisi cinta
Dan bukan kata-kata kosong
Kata bagaikan peluru
Mulut adalah senjata
Untuk..

Menembus batas langit ke tujuh
Membawa dewi keadilan
Berpijak kembali di bumi
Hakim bagaikan wayang bertopeng
Penguasa adalah dalang
Dalang kebohongan
Dalang penghianatan
Dalang kehancuran

Semua ketakutan,menjeritlah
Menangislah dalam neraka
Tersenyumlah dalam surga
Pimpinlah dunia dengan cita,cinta dan harapan

Bangsaku

|| || , || Leave a komentar

BANGSAKU
Puisi Salma Sulistyaningtyas

Bangsaku....
Bangsa yang cinta damai
Bangsa yang ramah
Bangsa yang beradab....

Tapi,..mengapa saudara-saudaraku masih berpaling
Kecewakah?atau hanya sekedar gengsi
Tidak....Aku tidak mau berpaling dari negeri ini
Kadang aku berfikir, kadang aku juga merenung...

Wahai bangsaku...
Wahai saudara-saudaraku..
Cintailah negeri nan elok ini
Jangan kau rusak negeri ini dengan demonstrasi yang anarkis
Jangan kau hancurkan negeri ini dengan narkoba
Jangan kau kotori negeri ini dengan maksiat
Jangan kau nodai negeri ini dengan korupsi dan kolusi...

Kapitalis Menolak Krisis

|| || ,, || Leave a komentar

KAPITALIS MENOLAK KRISIS
Puisi Dias  Nurhadias

Lelah menyerpih pada setiap denyutan jam
Sosok itu masih membanting tulang
Mungkin takan dihentikan sebelum remuk
Sebelum kepingan uang menjadi emas

Sungguh malang nasibmu nak !
Menanti di mengerti namun tak kunjung datang
Sudahlah kupikir kau tinggal menunggu mati !!
Atau pergi dengan harapan mendapatkan pengertian

Mereka hanya peduli akan laba
Sedikit saja berkurang bibir mereka peka
Pikirkan juga tuan manusia terlahir merdeka

Wajah Pemimpin Negeri Temanku

|| || , || Leave a komentar

WAJAH PEMIMPIN NEGERI TEMANKU
Puisi Angri Saputra

Pemimpinku lucu, kata temanku
sukanya bercerita
tentang jiwanya yang terancam
perihal keluarganya yang diteror

Aih, temanku bersedih
katanya, pemimpinnya suka menangis
mengeluh, betapa keputusannya sulit
berkesah, mengapa rakyat melawannya

Aih, untung saja pemimpinku tak seperti pemimpinmu, temanku

Kemacetan Kota

|| || , || Leave a komentar

KEMACETAN KOTA
Puisi Elfri Lidwina

Di kala sang surya menampakkan diri
Aku bergegas berangkat ke sekolah
Menggunakan kendaraan milik ayahku
Yang melaju seiring berjalannya waktu

Macet�  Macet�  Macet...
Itulah yang selalu kutemui
Di tengah �tengah kesibukan dan keramaian
Mobil-mobil di jalan merangkak perlahan
Dengan masing-masing tujuan

Oh�
Akankah terus seperti ini?
Mengapa banyak orang yang memikirkan diri sendiri?
Angkutan kota yang berseliweran menaik-turunkan penumpang
Menjadi salah satu pemicu terjadinya macet
Kendaraan parkir di sembarang tempat
Tak peduli dengan rambu-rambu yang berdiri di sudut jalan

Inikah bentuk kota metropolitan ?
Dengan masyarakat yang tak tahu aturan ?
Hingga memang harus kuakui
Seperti inilah kehidupan kota

Beling-beling Kaca Tak Berarti

|| || , || Leave a komentar

BELING-BELING KACA TAK BERARTI
Puisi Sekar Ningrum

Duduk bersimpuh di singgasana
Kini bukanlah untuk mengabdi
Bukan lagi tuk memberi
Bukan lagi tuk mengasihi
Kesejahteraan hidup ini

Hamba-hamba kecil yang selalu menanti
Kesejahteraan
Kebahagiaan
 dan Kemakmuran hidup
Yang kini tiada lagi
Kini semua tlah sirna
Kini semua tlah punah
Tak ada lagi yang bisa curahkan aspirasi
Agar dapat kehidupan yang damai
Agar dapat kehidupan yang tenteram
Kemiskinan, Kesengsaraan takkan terwujud
Jika kau tak memulainya
Pertengkaran, Perselisihan takkan terwujud
Jika kau tak mengawalinya

Kini kau tlah meluluh lantahkan
Nasib dan kebahagiaan kami
Yang saat ini jadi permainan
Terus menerus dipermainkan

Tiada lagi kepedulian
Tiada lagi perhatian
Kau yang tlah lupa akan nasib kami
Kau yang tlah lupa akan kehidupan ini
Semuanya tlah berubah
Kepedulianmu kini tak lagi hiasi
Dan tak lagi warnai
Hidup kami yang kini jadi Beling-beling Kaca Tak Berarti

Wahai para pemimpin !
Kami hanya ingin kesejahteraan
Kami hanya ingin kemakmuran
Yang bisa buat hidup kami bahagia
Yang bisa buat hidup kami sejahtera
Kami berharap semoga tak ada lagi pertengkaran
Tak ada lagi perselisihan
Serta kemiskinan dan kesengsaraan

Bantulah kami !
Sediakan kami sarana yang layak tuk kami tempati
Biarkan kami hidup mandiri
Mengadu nasib
Membanting tulang
Agar kami dapat wujudkan
Kebahagiaan hidup yang saat ini tertunda

Bukan di Meja Politikus Bukan di Meja SPSI

|| || , || Leave a komentar

BUKAN DI MULUT POLITIKUS BUKAN DI MEJA SPSI
Puisi Supri Yanto

berlima dari solo berkeretaapi kelas ekonomi murah
tak dapat kursi melengkung tidur di kolong
pas tepat di kepala kami bokong-bong
kiri kanan telapak kaki tas sandal sepatu
tak apa di pertemuan ketemu lagi kawan
dari krawang-bandung-jakarta-jogya-tangerang
buruh pabrik plastik, tekstil, kertas dan macam-macam
datang dengan satu soal

dari jakarta pulang tengah malam dapat bis rongsok
pulang letih tak apa diri telah ditempa
sepanjang jalan hujan kami jongkok tempat duduk
nempel jendela
bocor
bocor
sepanjang jalan tangan terus mengelapi
agar pakeyan tak basah
dingin
dingin
tapi tak apa
diri telah ditempa
kepala dan dada masih penuh nyanyi panas
hari depan buruh di tangan kami sendiri
bukan di mulut politikus
bukan di meja spsi

Indonesiaku Pincang

|| || , || Leave a komentar

INDONESIAKU PINCANG
Puisi Adnan Azhari

Sangat elok nan syahdu sa�at kupandangi hamparan permadani menghijau.
Gunung tinggi menjulang, dan pohon pinus yang seakan menserasikan pemandangan itu. Aku bangga menjadi warga negara surga indonesia..aku bangga���..!!!

Namun keindahan itu hilang seketika kala hama dan tikus berkedok merusak tatanan apa yang ada.
Kami manusia yang awam, yang tak tau apa itu tatanan pemerintahan, karena yang kami tau hanyalah kelestarian tatanan yang damai. Tidak lebih dari itu�
Namun semuanya rusak, tiada harapan karena ANJING-ANJING LIAR PELIHARAAN�DPR�
Yang duduk angkuh diatas kursi import yang konon harganya juta�an rupiah..
Bodoh�����..sungguh bodoh.

Santapan Jalan

|| || , || Leave a komentar

SANTAPAN JALAN
Puisi Nur Afiani

Begitu tegar dirimu
Setiap hari tertindih beban nan berat
Tak peduli racun yang menyelubungimu
Serta tetesan air yang menyerbumu

Begitu banyak yang dirasakan setiap di atasmu
Begitu banyak raut yang terlepas
Namun, apa yang dilakukan pemimpin kita?
Berlalu dengan palang di sisinya

Adilkah negara ini?
Pemimpin memberimu santapan terbanyak
Sedangkan dirimu sudah tak sanggup
Dan sengsara pun merajut rakyat

Duri-duri Kokoh Berdiri

|| || , || Leave a komentar

DURI-DURI KOKOH BERDIRI
Puisi Muhaddisin

Duri-duri tak bisa kering
duri-duri tak bisa mati
oleh anging-angin semusim
oleh hujat berhari-hari

duri-duri tak bisa hilang
duri-duri tak bisa lenyap
oleh air hangat-hangat kuku
oleh panas-panas tai ayam

duri-duri tak bisa musnah
duri-duri tak bisa punah
oleh pepaduan suara
oleh obrol santai belakang meja

duri-duri tak bisa tumpul
duri-duri tak bisa gundul
oleh pisau bermata satu
oleh mata bermuka dua

duri-duri tak bisa sadar
duri-duri tak bisa pudar
oleh penjara-penjara istimewa
oleh bui bertahta megah

duri-duri tak bisa hancur
duri-duri tak bisa luntur
oleh tetesan air liur
oleh orang kubangan lumpur

duri-duri dimana-mana
duri-duri disana-sini
di jaman orde baru
di bank century
di kantong safari DPR
di kementrian pajak
di proyek wisma atlet
di kejaksaan
di instansi kepolisian
sampai juga di KPK
lalu turun-temurun ke anak cucu negeri

17 Agustus 2011

Cinta untuk Indonesia

|| || ,, || Leave a komentar

CINTA UNTUK INDONESIA
Puisi Nur Afiani

Indonesia itu kaya
Indonesia itu hebat
Kristal beningku mencair mendengarnya
Hatiku sakit bak ditusuk tujuh pedang

Kala aku melalui jalan setapak
Kala aku mengarungi samudera nan luas
Kulirik pemuka rakyat memakan uang rakyat
Einsten Indonesia yang melangkah ke luar kandang
Serta aset bangsa yang meniru budaya barat
Apakah benar Indonesia kaya?
Apakah benar Indonesia hebat?

Sanubariku selalu mengetuk jalan pikiranku
Seolah-olah ia berkata padaku,
�Pandanglah ke depan untuk waktu yang terus berputar!
Penjajahan tidak lagi  mengurung kita
Perang belum meletus di tanah air tercinta
Tapi, apa yang terjadi pada aset bangsa?
Ke mana Indonesia ini akan dibawa?�

Aku yakin
Dan aku tak pernah berhenti berharap
Dengan budaya yang masih mengikat cinta
Dengan rangkaian cinta yang selalu dikemas
Indonesia akan bangkit kembali
Semangatnya akan terus berkibar
Seperti Sang Saka Merah Putih
Yang terus berkibar
Di antara harimau yang siap menerkam

Reaksionir

|| || , || Leave a komentar

REAKSIONIR
Puisi Ayu Nurlaila Indah


Tanpa gelatak umbar-umbar
Riuh redah dadaku mendentum rindu
Picingan nakal laten pun membiasa
Selubung oleh teduhan matamu
Mekar oleh uluman senyummu
Aku menikmati�
Aku mengincar�

Satu tahun,
Dua tahun,

Cih !!
Lebih seinci mozaiknya dungkul
Keadaan eksentrik menjebak
Nyata ketidakmungkirannya
Dia sepertiku,
Tersayat, aku pilih mundur
Mengalah, menyurut tanpa mulut
Deminya, aliansiku dengannya
Dan sekarang,
Aku hanya ingin reaksionir ada untuk kita

Langkah Ritmis Kaki Anjing

|| || ,, || Leave a komentar

LANGKAH RITMIS KAKI ANJING
Puisi Hari Jogja

Berjalan dengan keempat kakinya menyusur lorong gelap kota,
dimana wanita-wanita berkutang saja
melongok lewat jendela kamarnya dan laki-lakinya menyulut rokok hingga membara.

Suara langkah serupa kerikil menimpa genting,
begitu ritmis beradu kuku dan ubin,
gelak tawa dan desahan kecil-kecil si anjing masih sibuk dengan lorong gelapnya,
sedang aku masih sibuk menyantap beberapa tusuk sate telur puyuh
sembari menatap ngeri pada malam kotaku.

harijogja

Anak Jalanan

|| || , || Leave a komentar

ANAK JALANAN
Puisi Ocha

hari-hari ku lalui kehidupan yang sulit....
makan pun aku harus mencari d tong2sampah....
mmang sungguh hina diri ini ......
tapi aku tak berdaya....
aku hanya seorang anak kecil yang tak  tau apa2..
aku tk pernakh mengenal keluarga.....
tak tau siapa ibu n ayah ku....
aku besar brsama orng lain d sebuah rumah yang skarang masih aku tmpati ....

hidup ini penuh dengan liku2 yng sangat pahit n sakit...
tak ada kata menyerah untuk sesuap nasi.....
ingin rasanya aku bersekolah ...
tapi itu hanya mimpi belaka ...

ku trus menunggu belaskasih wakil rakyat yang berdasi.....
tapi mereka tak peduli....

Indonesiaku Kini

|| || ,,,, || Leave a komentar

INDONESIAKU KINI
Puisi Awaliya Nur Ramadhana

Negaraku cinta Indonesia 
Nasibmu kini menderita 
Rakyatmu kini sengsara 
Pemimpin yang tidak bijaksana 
Apakah pantas memimpin negara  
yang aman sentosa

Oh Indonesia tumpah darahku 
Apakah belum terbit, 
Seorang pemimpin yang kita cari
Apakah rasa kepemimpinan itu  
masih disimpan di nurani
Tertinggal di lubuk hati 
Tak dibawa sekarang ini 

Rakyat membutuhkanmu
Seorang Khalifatur Rasyidin
Yang setia dalam memimpin
Menyantuni fakir miskin
Mengasihani anak yatim

Kami mengharapkan pemimpin 
yang soleh dan solehah
Pengganti tugas Rasulullah
Sebagai seorang pemimpin ummah
Yang bersifat Siddiq dan Fatanah

Andaikan kutemukan
Seorang pemimpin dunia
Seorang pemimpin agama
Seorang pemimpin  Indonesia

Hanya Allah Yang Mengetahuinya

Harapan Anak Jalanan

|| || ,, || Leave a komentar

HARAPAN ANAK JALANAN
Puisi Devi

Aku hidup sebatang kara
yang tak pernah tau apa itu keluarga
selama ini aku berkelana
selalu di landa duka dan lara

dengan seiringnya waktu berjalan
aku menanti sebuah harapan
dari hati yang paling dalam aku bertanya
masih adakah hari esok untuk aku bahagia?

aku hanyalah seorang anak jalanan
yang ingin merasakan indahnya pendidikan
aku hanyalah seorang anak yang di kucilkan
yang ingin merasakan kebahagiaan

Tuhan...
hanya doa yang selalu ku panjatkan
agar hari esok lebih baik dari hari sekarang
aku hanya bisa memohon
hanya engkau yang menentukan

Negeri Impian

|| || ,,, || Leave a komentar

NEGERI IMPIAN
Puisi Efoel Lintang

rembulan terbit dari barat, seperti wajahmu yang bulat
seakan menyiratkan yang tak tersurat
dibalik kharisma kemilaunya cahaya yang semburat
menghipnotis hati biar terpikat
lemah gemulai gerakanmu
iringi lagu rindu yang mendayu
sendu tatap matamu  menghiba pelepas rindu
tujuh purnama telah kau tunggu
tujuh negeri telah kau lewati
masih belum kau temui apa yang kau cari
diantara bimbangnya hati
apa sebenarnya yang kau cari
tanpa jawab yang kau dapati
bertambah galaulah hati
melihat nasib ini negeri
anak kurang gizi
bergelimpangan bayi mati
ibu-ibu tak punya asi
menggilanya aborsi
merajalelanya multilasi
ditingkahi bobroknya birokrasi ini negeri


lubuklinggau, 18 januari 2012